Perjuangan Seorang Pelaut (Patorani)

Kehormatan Paling tertinggi  buat Paranelayang dari Sulawesi Selatan,
Terutama Pencari Telur ikan Terbang dari Galesong...
Perahu kayu pembelah Ombak 3 Lapis, menaklukkan Ombak tinggi, 


Ternyata, ikan terbang ini memang ada–bukan sembarang ikan yang terbang, dan telurnya yang diburu para nelayan di Takalar. Saya pun teringat pada ikan terbang yang mengiringi perjalanan saya ke Sawai di Pulau Seram. Malam itu, tiba-tiba ada sesuatu yang menampar pipi kawan saya. Ia panik dalam kegelapan, lalu seekor ikan menggelepar jatuh ke perahu. Saya pun mengarahkan senter ke atas permukaan air, terlihat ikan beterbangan yang berkilauan.

Ikan terbang yang dicari masyarakat Takalar disebut Tuing-Tuing. Nama latinnya Parexocoetus brachypterus. Ciri khas ikan ini adalah sirip dada yang lebar yang  membantu mereka meluncur di atas air. Sebenarnya, ikan ini terbang demi melindungi diri dari kejaran pemangsa.

Lalu, apa gunanya mencari telur ikan terbang? Telur ikan terbang adalah komoditas andalan masyarakat Takalar. Ia diekspor ke Jepang dengan nilai tinggi, kalau tak salah untuk bahan kosmetik dan makanan. Satu kilogram bisa mencapai harga ratusan ribu rupiah.

Nah, Patorani adalah ritual yang dilaksanakan sebelum melepas nelayan ke laut untuk mencari telur ikan terbang. Ini adalah tradisi turun-temurun di Takalar. Patorani berasal dari kata tobarani yang berarti ‘pemberani’. Alkisah, para pemberani dari Kerajaan Galesong bertempur melawan Belanda di daerah Tuban, Jawa Timur, untuk membantu Raden Trunojoyo. Saat berlayar pulang, mereka menemukan ikan terbang. Mereka berusaha menangkapnya untuk dimakan. Saat menghadap sang Raja, mereka menceritakan penemuan itu, lalu menciptakan alat tangkap untuk ikan terbang.

"Jangan Lupa di bagikan untuk berbagi momen"